Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Riau, Real Estate Indonesia (REI) Menjadi Pengembang Yang Tangguh

Advertisement

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Riau, Real Estate Indonesia (REI) Menjadi Pengembang Yang Tangguh

Monday, September 16, 2019

-Kegiatan DPD REI Provinsi Riau, 26 Februari 2019-

PROPERTI DAN BISNIS. Edukasi bagi seorang pengusaha sangat diperlukan. Menghadapi perkembangan dunia bisnis dewasa ini diperlukan trik atau cara dalam menjalaninya. Seperti kita ketahui bahwa pertumbuhan ekonomi yang lambat membuat daya beli masyarakat sangat jauh sekali dari ekspektasi yang diharapkan.

Ada tiga indikator kunci pada bidang makroekonomi, yang pertama ialah pertumbuhan ekonomi yang berdasarkan pada nilai produk domestik bruto (PDB).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), PDB nasional di tahun 2018 ini berada dibawah ketidak pastian global. Yang kedua adalah, terjadinya inflasi atau kenaikan harga pada barang-barang secara umum, indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi adalah indeks harga konsumen (IHK).

Ada beberapa kategori IHK yang dijadikan sampel utama dalam mengukur inflasi yang terjadi di Indonesia, yang pertama yaitu harga bahan makanan, kedua makanan jadi, ketiga perumahan, keempat sandang, kelima pengobatan atau kesehatan, keenam olahraga, pendidikan dan rekreasi, dan yang ketujuh transportasi, komunikasi dan jasa keuangan.


Yang merupakan indikator ketiga pada bidang makro ekonomi adalah lapangan kerja yang sangat minim. Berdasarkan indikator itulah maka perekonomian Indonesia di level makro mengalami guncangan terutama pada nilai tukar, cadangan devisa dan defisit neraca pembayaran. Maka perlambatan pertumbuhan ekonomi pasti akan terjadi.

Disinilah perlunya strategi-strategi jitu bagi pengusaha untuk tetap bisa hidup ditengah kondisi perekonomian yang tidak menentu. Khususnya bagi pengusaha yang bergerak di bidang properti atau perumahan, dimana bisnis perumahan masuk menjadi indikator utama dalam indeks harga konsumen yang mengalami penurunan daya beli di tahun 2018 kemarin hingga hari ini.

Banyak pengusaha properti yang mengeluh, membangun 100 unit rumah yang biasanya habis dalam waktu 1 tahun, kalau sekarang membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun. Disamping itu juga regulasi yang terkesan menghambat menjadi kendala lain yang utama disamping daya beli masyarakat yang menurun.
Dewan Pimpinan Daerah Real Eastet Indonesia (DPD REI) Provinsi Riau melihat ini menjadi sebuah ancaman bagi pengembang, sehingga timbullah sebuah ide untuk membuat sebuah pelatihan khusus bagi pengembang yang tergabung di REI.

Dan akhirnya gagasan  ini  terlaksana  juga  pada  Selasa (26/02/19) di Hotel Pangeran. Kegiatan yang bertemakan “Menjadi Developer Tangguh” ini bertujuan untuk merubah cara pandang bagi pengembang, bahwa membangun rumah bukan sekedar membangun rumah dan menjual, tapi harapannya setiap developer bisa memahami kode etik dalam setiap membangun rumah terutama rumah layak huni.

Pelatihan yang dilakukan selama dua hari ini, merupakan kegiatan yang pertama kali terjadi selama DPD REI Provinsi Riau berdiri. Kegiatan ini fokus mengembangkan self development program, artinya mengembangkan program kemampuan diri sendiri.

Dengan demikian secara otomatis keaktifan peserta di forum menjadi tuntutan utama, sehinga peserta diklat bisa mendapatkan pemahaman terkait hal-hal yang disampaikan pada diklat tersebut.

Metode pelatihan yang diterapkan oleh DPD REI ini, yaitu listening dan asking, dengar dan bertanya, tidak ada moderator di dalam pelatihan tersebut, sehingga peserta diklat bebas bertanya kapan saja dan berdiskusi sehingga persoalan yang dipertanyakan bisa terjawab dengan tuntas.

Kemudian juga peserta diberikan PR atau pekerjaan rumah yang harus mereka kerjakan ketika beristirahat di malam hari, dan keesokannya PR tersebut didiskusikan bersama di dalam kelompok-kelompok kecil. Juga ada metode hitung cepat laba rugi yang diberikan pada pelatihan tersebut.

Sehingga para pengembang dengan cepat bisa menghitung setiap laba rugi yang dia terima ketika ingin mengembangkan sebuah kawasan hunian. Ada juga materi manajemen resiko yang akan diperoleh para peserta. Di akhir pelatihan peserta akan diberikan sertifikat, yang nantinya merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan sertifikasi resmi dari pemerintah.

Kegiatan yang langsung dibuka oleh Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Bapak Ardhani mewakili Walikota Pekanbaru Bapak Dr. Firdaus, ST.,MT, dihadiri juga oleh Drs. Taufik Khoiruddin selaku Kasubdit Fasilitas Hunian Berimbang Direktorat Rumah Umum dan Komersial Dirjen Penyediaan Perumahan Kementrian PUPR, Adri Istambul Lingga Gayo menjabat Wakil Ketua Umum DPP REI, Mr. Priyanto Ketua Badan Diklat DPP REI yang juga Ketua DPD REI Jawa Tengah.

 -MR. Priyanto Ketua Badan Diklat DPP REI-
Badan diklat merupakan salah satu sub struktur organisasi DPP REI yang berfungsi untuk meningkatkan profesionalitas anggota REI.

Bidang ini terbentuk dikarenakan kebutuhan masing- masing anggota REI.
Ada yang bergerak di bidang apartemen, rumah mewah, rumah sederhana, wisata, pusat belanja, rumah sakit, sekolah dan lain-lain. Maka bidang diklat DPP REI ini menjadi solusi yang efektif untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Untuk di Pekanbaru tema diklat mengusung pembangunan perumahan layak huni yang merupakan tindak lanjut dari program satu juta rumah yang dilakukan oleh pemerintah. Hal ini dilakukan untuk mengejar deadlock, yaitu kekurangan rumah yang dibutuh oleh masyarakat kota Pekanbaru yang masih membutuhkan 15.000 lebih rumah layak huni.

Berdasarkan kebutuhan tersebut maka pelatihan ini fokus kepada rumah layak huni. Peserta akan dibekali pengetahuan tentang regulasi, perizinan, perbankan, tata ruang, pembiayaan dan pembangunannya.

Lebih spesifik tujuan dalam diklat ini adalah membentuk seorang pengembang yang profesional dalam membangun sebuah kawasan. Indikatornya bertanggungjawab dalam pembangunannya, sesuai dengan regulasi dari pemerintah baik itu tata ruang dan lainnya, kemudian mampu mengembangkan perusahaannya dan berkesinambungan serta masyarakat yang menempati merasa aman dan nyaman.

Balai diklat DPP REI berharap peserta bisa mengetahui cara membangun rumah, cara perhitungan laba rugi dan mendapatkan sertifikat yang bisa developer gunakan untuk mendapatkan sertifikasi dari pemerintah.

Menurut Ketua balai diklat DPP REI, developer Pekanbaru harusnya bukan hanya membangun rumah layak huni, tapi sudah melirik pada pembangunan rumah vertikal seperti apartemen. Ada kendala umum yang dihadapi oleh pengembang yaitu tentang PP No. 64 Tahun 2016, dimana isinya menyangkut tentang kemudahan bagi pengembang dalam mendapatkan perizinan, salah satu contohnya adalah pembangunan rumah layak huni yang memakai lahan seluas 5 ha kebawah, maka tidak perlu lagi mengurus izin lokasi.

Tapi yang menjadi masalah adalah tidak sampainya informasi regulasi ini ke pemerintah daerah di masing-masing provinsi, sehingga pengembang yang seharusnya tidak perlu mengurus perizinan terpaksa harus megurusnya.
  
-H. Nurzafri, SE Ketua DPD REI Provinsi Riau-
Diklat ini adalah program dari DPP REI, dimana DPD  REI menjadi pelaksana di daerah. Diklat yang telah terlaksana di 23 daerah se Indonesia ini merupakan diklat yang pertama kalinya dilakukan di Provinsi Riau. Tujuan dari diklat ini adalah membentuk pengembang yang tangguh, pengembang yang memiliki kode etik dan tanggung jawab moral. Jadi peserta pelatihan ini nantinya akan mempunyai edukasi yang bukan hanya dalam hal pembangunan, tapi juga memiliki edukasi dalam perizinan, perpajakan dan regulasi pemerintah. Sehingga baik pengembang lama maupun pengembang baru bisa memiliki kualifikasi yang sama.

Diawal pendaftaran diklat ini panitia berencana membuka peluang untuk 200 peserta, tapi berdasarkan pertimbangan bahwa tidak akan efektifnya sebuah pelatihan maka peserta akhirnya dibatasi sejumlah 78 orang.

-Dr. Taufik Iman Santoso, SH-
Para pengembang harus merubah cara pikir bahwa developer itu bukan seorang kontraktor, karena itu berbeda. Kontraktor itu pengerjaanya pasti, dan memiliki keuntungan yang pasti, sedangkan developer harus mengembangkan edit value, contohnya kita membangun dengan harga 10.000.000 bagaimana caranya bisa menjual dengan harga 20.000.000, dalam jangka pendek hal ini belum untung, tapi dalam jangka panjanglah hal ini baru bisa untung. Nah, cara pandang inilah yang harus dirubah oleh para pengembang. Karena selama ini para pengembang itu berpikir mereka adalah kontraktor.

Bisnis perumahan ini pasti selalu ada peluang, walaupun ditengah kondisi perekonomian saat  ini.  Menurut data statistik bahwa nilai perkawinan pertahunnya itu sebanyak 1 juta pasangan, selama nilai perkawinan itu makin naik, maka kebutuhan rumah pasti berbanding lurus. Bagi para developer yang baru memulai teruslah bertahan, karena anda sudah berada di jalur yang benar untuk sukses, karena bidang properti ini merupakan bisnis yang paling menjanjikan.

Kuncinya adalah selama angka perkawinan ada maka bisnis properti akan tetap hidup. Para pengembang ketika  membangun  sebuah kawasan jangan hanya membangun, harus membuat atau merencanakan edit value nya, karena jika tidak direncanakan akan berdampak pada laba yang didapatkan. Salah satu trik dalam mendapatkan edit value tertinggi adalah membangun rumah dalam sebuah kawasan harus dimulai dari belakang. Kemudian tipe berikutnya jangan sama dengan yang belakang harus lebih tinggi lagi, misalnya di belakang itu tipe 36, maka di depan dibuatlah type 38, 40, atau yang lainnya.

-Angga, Peserta Pelatihan-
Bisnis properti ini masih sangat menjanjikan karena jumlah penduduk selalu bertambah, jika jumlah penduduk bertambah, maka kebutuhan terhadap perumahan pasti ada. Pelatihan yang diadakan oleh DPD REI ini sangat membantu, bukan hanya bagi pengembang pemula tapi juga bagi pengembang yang sudah berpengalaman pun sangat membantu.

Tujuan dalam mengikuti diklat ini tercapai dengan metode dan cara yang dilakukan oleh pemateri dan juga berjumpa dengan sesama pengembang menjadikan permasalahan-permasalahan yang ada dapat terselesaikan dengan baik. Masalah yang paling berat yang dihadapi oleh pengembang adalah dibagian perizinan dan pajak. Tapi berkat pelatihan yang dilakukan oleh DPD REI ini, bisa didapat trik dan strategi untuk menghadapinya.

Harapannya kegiatan ini berkesinambungan, jadi jangan hanya sekali ini saja. Tapi harus rutin diadakan sehingga pengembang-pengembang bisa mendapatkan informasi yang bisa memudahkan bagi para pengembang tersebut.

((red RR))

close